One Fine Evening at Bukit Merese, Lombok
January 10, 2016

Piknik Ceria Papandayan, Garut

Processed with VSCOcam with hb2 preset

Puncak bukan tujuan utama, tetapi kembali ke rumah dengan selamat itu yang utama. Setidaknya itu prinsip saya kalau mendaki gunung. Anggap saja puncak itu bonus, di gunung manapun. Diperlukan pemanasan yang cukup supaya tidak menyusahkan orang lain di atas sana dan nurut dengan cuaca. Jangan melawan alam.

Jarang sekali saya kembali ke gunung yang sama untuk kedua kali, tetapi Papandayan istimewa. Walaupun tingginya 2665 MDPL, tetapi pemandangannya luar biasa. Oiyah, saya tidak pernah meng-claim diri sebagai pencinta alam, lebih ke penikmat alam yang mencintai alam. Di Papandayan inilah banyak pemandangan indah yang bisa dinikmati. Dua kali ke sini ga muncak, karena dari awal niatnya memang mau piknik ceria.

 

Kawah

 

 

Processed with VSCOcam with hb1 preset

Jalan berbatu menanjak landai dengan bau belerang menyengat. Di kiri terlihat banyak kepulan asap, di kanan berupa bukit hijau kemudian berganti bebatuan dan kembali bukit hijau. Lebih enak jika trekking waktu masih pagi, matahari belum terlalu tinggi sehingga tidak panas menyengat, karena panas dan bau belerang dari kawah sudah cukup melambatkan langkah. Setidaknya itu yang bisa saya deskripsikan tentang kawah di Papandayan.

Pondok Saladah

 

dk010313

 

Kalau terbiasa trekking, dari basecamp sampai ke camp area di Pondok Saladah memerlukan waktu kurang dari satu jam. Untuk menuju ke sini, setelah kawah kita akan melewati sungai dan beberapa tanjakan, masih manusiawi dan aman bagi pemula. Seperti lokasi piknik karena sudah ada toilet umum dan beberapa warung maupun penjaja makanan pikulan. Lokasinya cukup luas dan datar dikelilingi hutan. Tidak jauh dari sini terdapat jalan setapak menuju hutan mati yang ditumbuhi edelweiss. Kalau tidak mau bersusah payah ke Tegal Alun, bisa menikmati edelweiss di sini. Tidak sebanyak di Tegal Alun, namun cukup rimbun.

Tegal Alun

dk010121

dk010166

unnamed2

Surganya edelweiss di Papandayan! Sepanjang mata memandang hanya terlihat edelweiss. Tinggi edelweissnya bisa mencapai 2 meter dan rimbun. Perlu waktu sekitar satu jam dari Pondok Saladah ke Tegal Alun dengan jalur menanjak cukup curam, dari bebatuan sampai tanah dan akar tanaman semua dilewati. Sepanjang mata memandang hanya terlihat edelweiss, ya sih dikejauhan terlihat hutan mati. Tidak boleh mendirikan tenda di sini, cukup dinikmati saja beberapa jam.

Hutan Mati

unnamed-1

Terbentuk karena letusan Papandayan di tahun 2002 yang menyisakan lahan dengan batang pohon kering tanpa daun. Uniknya, sekarang sudah ada tanaman cantingi yang mulai tumbuh di sini. Sempat melewati hutan mati ketika berkabut, suasanya mistis namun tetap eksotis. Kalau cerah akan terlihat Gunung Cikuray dari Hutan Mati Papandayan.

 

unnamed-3

Photo & Text by Florentina Woro

 

WEB : WWW.THEMANOCREATIVE.COM | IG : WWW.INSTAGRAM.COM/THEMANO2

Florentina Woro N.E

Writer of Indonesia A-Z.
Working as an engineer, "work smart, travel hard"
Florentina Woro N.E

Latest posts by Florentina Woro N.E (see all)

Florentina Woro N.E
Florentina Woro N.E
Writer of Indonesia A-Z. Working as an engineer, "work smart, travel hard"